Pungkas Rudi Badil dalam buku Soe Hok Gie: Sekali Lagi (2009). Meski sosoknya telah tiada, romantismenya masih bertahan hingga hari ini. Daya magis romantismenya bahkan dilantunkan berkali-kali oleh generasi muda. Semua itu berkat kehadiran sebuah puisi dari catatan hariannya yang bertanggal 1 April 1969.
Dan dari buku ini akhirnya saya paham kenapa Gie dianggap sebagai tokoh pejuang. Ternyata ia bukan sekedar mahasiswa tukang demo yang hobby nulis puisi dan terkenal karena mati muda. Gie lebih dari itu. Dan buku ini menggambarkan secara gamblang siapa Soe Hok Gie dan seperti apa pemikirannya yang patut kita kagumi. Ia mampu mewujudkannya, sebelum ia mati muda di gunung itu. Soe Hok Gie adalah sosok yang memiliki idealisme tinggi. Ia sangat kritis dalam memandang sesuatu persoalan. Kritis itu sering ditunjukkan Gie pada persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam beberapa kesempatan, kepada kaan-kawannya Hok Gie selalu mengaku bingung. Pernah suatu kali Hok Gie ditawari posisi di sebuah media massa. Jawaban Hok Gie, sebagaimana ditulis dalam sebuah surat untuk sahabatnya, sudah jelas, "Gue nggak mau, gue mau tetap jadi orang bebas dan tetap jadi cross boy. Enak deh." . 183 298 489 124 490 212 210 48

puisi soe hok gie mati muda